pembelajaran berdiferensiasi

 Nama Anggota Kelompok 4:

  1. Rahmachika Kusuma Wardani (X902308718)

  2. Hafidzi Nur Muhammad (X902308383)

  3. Ika Anggun S (X902308422)

  4. Imam Setiawan (X902308431)

  5. Luluk Khumaiya (X902308516)


SEL.07.2-T1-1-4. Demonstrasi Kontekstual


Poin Pembahasan:

·       pengertian pembelajaran berdiferensiasi,

·       contoh keragaman anak di kelas,

·       disertai teori pendukung.

 

Pembelajaran Berdiferensiasi

 

A.    Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi sejalan dengan filosofi pemikiran pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar anak mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup serta menumbuhkan kekuatan kodrat anak. Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar (Herwina, 2021).

Pembelajaran berdiferensiasi adalah teknik instruksional atau pembelajaran dimana guru menggunakan berbagai metode pengajaran untuk memenuhi kebutuhan individual setiap siswa sesuai dengan kebutuhan mereka. Kebutuhan tersebut dapat berupa pengetahuan yang ada, gaya belajar, minat, dan pemahaman terhadap mata pelajaran (Purnawanto, 2023).

Menurut Wahyuni (2022) pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan menggunakan tiga strategi meliputi diferensiasi konten, proses, dan produk. Diferensiasi konten adalah apa yang diajarkan kepada murid. Konten dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadap kesiapan, minat, dan profil belajar murid maupun kombinasi dari ketiganya. Diferensiasi proses mengacu pada bagaimana murid akan memahami atau memaknai apa yang dipelajari. Diferensiasi proses dapat dilakukan dengan kegiatan berjenjang, menyediakan pertanyaan- pertanyaan pemandu atau tantangan yang perlu diselesaikan di sudut-sudut minat, membuat agenda individual untuk murid berupa daftar tugas, memvariasikan lama waktu yang murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas, dan mengembangkan kegiatan bervariasi (Sarie, 2022). Herwina (2021) mengungkapkan diferensiasi produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan murid kepada guru bisa berupa karangan, pidato, rekaman, diagram, atau sesuatu yang ada wujudnya.

 

B.    Keanekaragaman di Kelas

1.     Keberagaman Agama

Di kelas ada beragam kepercayaan yang dimiliki oleh peserta didik seperti agama islam, katolik, kristen, budha, dan hindu. Meskipun ada beragam agama, namun guru harus dapat memberikan arahan kepada peserta didik untuk saling menghormati dan guru juga harus dapat menyesuaikan proses pembelajaran dengan mengajari agama sesuai dengan mayoritas peserta didik.

2.     Keberagaman Sifat atau Kepribadian

Setiap individu pasti memiliki sifat atau kepribadian yang berbeda dengan individu lain. Kepribadian inilah yang menjadi ciri khas dari setiap peserta didik. Dimana adanya kepribadian peserta didik yang cenderung pendiam dan adapun peserta didik yang aktif. Dari hal inilah guru harus mampu mengelompokkan peserta didik agar dapat bersosialisasi dengan teman nya.

3.     Keberagaman Gaya Belajar

Saat di kelas, gaya belajar setiap anak juga berbeda-beda. Yaitu ada anak yang lebih suka belajar dengan menggunakan audio atau melalui suara, ada pun anak yang lebih menyukai belajar dengan menggunakan visual atau gambar-gambar serta ada anak yang lebih menyukai belajar dengan langsung praktek

4.     Keberagaman Minat dan Keterampilan

Setiap peserta didik juga memiliki minat dan keterampilan yang berbeda-beda. Antara lain : adanya peserta didik yang terampil dalam menggambar atau ahli dibidang seni, ada yang menyukai pembelajaran yang berhubungan dengan angka, ada yang menyukai pembelajaran agama dan ada pula peserta didik yang senang dalam pembelajaran umum.

5.     Keberagaman Tingkat Kognitif

Peserta didik juga memiliki tingkat kepintaran yang berbeda yaitu ada anak yang dapat dengan cepat memahami materi pembelajaran, ada yang yang beda pada kategori sedang dalam memahami pembelajaran dan ada pula yang termasuk dalam kategori rendah atau lambat dalam menangkap materi pembelajaran sehingga butuh bimbingan lebih bagi guru untuk mengajarinya.

 

C.    Teori Pendukung

Teori yang melatarbelakangi perlunya pembelajaran diferensiasi ada 4, teori tersebut adalah:

1.     Teori sistem ekologi

Menurut Wuryaningrum (2022) perkembangan sistem perkembangan model ekologis tersebut terdiri atas:

a.      Mikrosistem mengacu pada 'lingkungan langsung' anak, yang dapat mencakup konteks keluarga dekat, lingkungan atau sekolah,

b.     Mesosistem menghubungkan berbagai pengaruh dekat dari microsistem bersama-sama dan menyediakan koneksi ke berbagai bagian kehidupan anak seperti ketika guru berkomunikasi dengan orang tua atau pekerja sosial berkomunikasi dengan saudara kandung anak,

c.      Eksosistem menggambarkan yang lebih besar: sistem sosial yang pengaruhnya tidak tidak berfungsi secara langsung. Pengaruh dari sistem ini terjadi melalui interaksi dengan struktur lain seperti pekerjaan orang tua jadwal atau tekanan kehidupan keluarga,

d.     Kronosistem mencakup dimensi temporal dalam perkembangan anak,

e.      Makrosistem lebih berkaitan dengan budaya dan pengaruh tidak langsung yang mempengaruhi seorang

 

2.     Teori multiple intelligences

Menurut Gardner (2003) tidak ada anak yang bodoh atau pintar, yang ada anak yang menonjol dalam hal tertentu. Dalam menilai dan menstimulasi kecerdasan anak, orangtua dan guru selayaknya dengan jeli dan cermat merancang sebuah metode khusus. Setiap manusia memiliki kecenderungan cerdas di satu bidang tanpa harus bersusah payah mengasahnya. Menurut Gardner (2003) terdapat delapan kecerdasan manusia, kecerdasan tersebut adalah:

a.     Kecerdasan Linguistik

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan menggunakan kata secara efektif. Pandai berbicara, gemar bercerita dan dengan tekun mendengarkan cerita atau membaca merupakan tanda anak yang memiliki kecerdasan linguistik yang menonjol. Potensi kecerdasan berbahasa yang dimiliki seorang anak hanya akan tinggal potensi bila tidak dilatih atau dikembangkan. Pola asuh sangat berpengaruh dalam hal ini. Anak yang tidak diberi kesempatan berbicara atau selalu dikritik saat mengemukakan pendapatnya akan kehilangan kemampuan dan keterampilannya dalam mengungkapkan ide dan perasaannya.

b.     Kecerdasan Logika Matematika

Kecerdasan logika matematika pada dasarnya melibatkan kemampuan untuk menganalisis masalah secara logis, menemukan atau menciptakan rumus- rumus atau pola matematika dan menyelidiki sesuatu secara alamiah. Ada juga yang secara awam menjabarkan kecerdasan ini sebagai kecerdasan ilmiah karena berkaitan dengan kegiatan berpikir atau berargumentasi secara induktif dan deduktif, berpikir dengan bilangan dan kesadaran terhadap pola-pola abstrak.

c.     Kecerdasan Visual Spasial

Kecerdasan visual-spasial memungkinkan orang membayangkan bentuk geometri atau tiga dimensi dengan lebih mudah karena ia mampu mengamati dunia spasial secara akurat dan mentransformasikan persepsi ini termasuk di dalamnya adalah kapasitas untuk memvisualisasi, menghadirkan visual dengan grafik atau ide spasial, dan untuk mengarahkan diri sendiri dalam ruang secara tepat.

d.     Kecerdasan Gerak Tubuh

Anak dengan kecerdasan gerakan tubuh di atas rata-rata senang bergerak dan menyentuh. Mereka memiliki kontrol pada gerakan, keseimbangan, ketangkasan dan keanggunan dalam bergerak, dan mengeksplorasi dunia dengan otot-ototnya.

e.     Kecerdasan Musikal

Anak dengan kecerdasan musikal mudah mengenali dan mengingat nada-nada. Ia juga dapat mentransformasi kata-kata menjadi lagu dan menciptakan berbagai permainan musik. Mereka Pun pintar melantunkan bait lagu dengan baik dan benar, menggunakan kosa kata musikal, dan peka terhadap ritme, ketukan, melodi atau warna suara dalam sebuah potongan komposisi musik.

f.      Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk bisa memahami dan berkomunikasi dengan orang lain, serta mampu membentuk dan menjaga hubungan, dan mengetahui berbagai peran yang terdapat dalam suatu lingkungan sosial. Memiliki interaksi yang baik dengan orang lain, pintar menjalin hubungan sosial, serta mampu mengetahui dan menggunakan beragam cara saat berinteraksi, adalah ciri-ciri kecerdasan interpersonal yang menonjol.

g.     Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan intrapersonal merupakan kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri, mengetahui siapa dirinya, apa yang dapat dilakukan, apa yang ingin ia lakukan, bagaimana reaksi diri terhadap suatu situasi dan memahami situasi seperti apa yang sebaiknya ia hindari serta mengarahkan dan mengintrospeksi diri.

h.     Kecerdasan Naturalis

Anak dengan kecerdasan naturalis yang tinggi pada usia sangat dini telah memiliki daya tarik yang besar terhadap lingkungan alam sekitar termasuk pada binatang. Di usia yang lebih besar, anak-anak tersebut sangat berminat pada biologi, botani, ilmu hewan, geologi, meteorologi, paleontologi atau astronomi.

3.     Teori Zone of Proximal Development (ZPD)

Salah satu konsep inti Vygotsky tentang pembelajaran sosial adalah idenya tentang zone of proximal development (ZPD). Menurut Vygotsky anak mempunyai dua level perkembangan yang tidak sama, yaitu: tingkat/zona perkembangan aktual dan tingkat/zona perkembangan potensial. Zona perkembangan aktual menentukan fungsi kecerdasan individu saat ini dan kemampuannya untuk mempelajari secara mandiri hal-hal tertentu. Zona perkembangan potensial oleh Vygotsky diartikan sebagai zona yang dapat dioptimalkan atau dicapai oleh individu dengan bantuan orang lain, misalnya pengajar, orang tua, atau teman sejawat yang lebih berpengetahuan (Vygotsky, 1978). Sedangkan zona yang terletak di antara zona perkembangan aktual dan zona perkembangan potensial disebut sebagai zone of proximal development. Melalui tantangan dan bantuan yang efektif dan efisien dari pendidik dan sejawat yang lebih berpengetahuan, diharapkan siswa berkembang ke zone of proximal development.

4.     Learning modalities

Menurut Supit et al (2023) gaya belajar manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

a.      Gaya belajar visual. Seseorang yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata/penglihatan (visual). Gaya belajar visual menitikberatkan ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar siswa paham.

b.     Gaya belajar Auditori. Pada dasarnya gaya belajar auditori adalah gaya belajar dengan cara mendengar. Gaya belajar auditorial lebih mengedepankan indra pendengar.

c.      Gaya belajar kinestetik. Gaya belajar kinestetik adalah gaya belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh. Maksudnya ialah belajar dengan mengutamakan indera perasa dan gerakan-gerakan fisik


 

Referensi

 

Gardner, H. (2003). Multiple Intelligences. Basics Book.

Herwina, W. (2021). Optimalisasi Kebutuhan Siswa dan Hasil Belajar dengan Pembelajaran Berdiferensiasi. Perspektif Ilmu Pendidikan, 35(2).

Purnawanto, A. T. (2023). Pembelajaran Berdiferensiasi. Jurnal Ilmiah Pedagogy, 2(1).

Sarie, F. N. (2022). Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dengan Model Problem Based Learning pada Siswa Sekolah Dasar Kelas VI. Jurnal Pendidikan Dasar, 4(2).

Supit, D., Melianti, Lasut, E. M. M., & Tumbel, N. J. (2023). Gaya Belajar Visual, Auditori, Kinestetik terhadap Hasil Belajar Siswa. Journal on Education, 05(03), 6994–7003.

Vygotsky, L. S. (1978). Interaction between learning and development. In Gauvain & Cole (Eds.), Readings on the development of children. Scientifica American Books.

Wahyuni, A. S. (2022). Literatur Review : Pendekatan Berdiferensiasi dalam Pembelajaran. Jurnal Pendidikan MIPA, 12(2).

Wuryaningrum, R. (2022). Ekologi Sosiokultural Pembelajaran Wacana dalam Konteks Lingkungan Pertanian Industrial. Prosiding Seminar Nasional Bahasa, Sastra, Dan Seni.


Komentar